2.500 Orang di India Disuntik Air Garam, Jadi Korban Penipuan Vaksin Covid-19 Abal-abal

Ribuan orang di India menjadi korban penipuan vaksin Covid 19 palsu. Dilansir , pihak berwenang mengatakan dokter dan para tenaga kesehatan yang terlibat sudah diamankan. Setidaknya ada 12 tempat vaksinasi palsu yang didirikan di area Mumbai negara bagian Maharashtra, menurut pejabat senior departemen kepolisian Mumbai Vishal Thakur.

"Mereka menggunakan saline water (air asin) dan menyuntikkannya," kata Thakur. "Setiap tempat vaksinasi palsu yang mereka dirikan, mereka melakukan ini (penipuan)," ujarnya. Saline water atau biasa dikenal salt water (air garam) adalah cairan yang mengandung larutan garam terutama natrium klorida dalam konsentrasi yang tinggi.

Menurut Thakur, diperkirakan ada 2.500 orang yang telah disuntik cairan garam ini. Bahkan penyelenggara vaksinasi palsu ini memberi tarif untuk setiap suntikan. Total keuntungan dari aksi penipuan ini mencapai USD 28.000 atau sekira Rp 404,7 juta.

"Kami telah menangkap dokter," jelas Thakur. "Mereka menggunakan rumah sakit yang memproduksi sertifikat palsu, vial, jarum suntik." Menurut laporan CNN pada Senin (5/7/2021), 14 orang telah ditangkap karena diduga terlibat pemalsuan vaksin Covid 19 ini.

Mereka menghadapi tuduhan melakukan kecurangan, percobaan pembunuhan, konspirasi kriminal, dan tuduhan lainnya. Thakur mengatakan, ada kemungkinan penambahan tersangka karena polisi masih melakukan penyelidikan. India dilanda gelombang kedua pandemi Covid 19 antara April hingga awal Juni ini.

Setelah puncak wabah pada Mei, kasus harian perlahan menurun. Pada Juni lalu, Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan vaksinasi terpusat. Jadi pemerintah pusat akan mendistribusikan sebagian besar dosis vaksin ke negara bagian secara gratis.

Setelah program ini diluncurkan, India mencapai rekor vaksinasi terbaru yakni 8 juta suntikan dalam sehari. Sejauh ini, lebih dari 62 juta orang atau sekitar 4,5% dari total populasi telah divaksinasi penuh, menurut data Universitas Johns Hopkins. Menurut News18, penipuan vaksin Covid 19 ini terjadi antara Mei hingga awal Juni lalu.

Pihak berwenang mulai menyelidiki setelah beberapa korban curiga dengan sertifikat vaksinasi yang mereka terima. "Tidak ada anggota kami yang mengalami gejala apa pun dan kami juga harus membayar tunai," kata seorang korban, menceritakan salah satu pos vaksinasi palsu di wilayah perumahannya. "Pada saat itu, kami meragukannya," tambahnya.

Ketika polisi mulai menyelidiki, pengacara asal Mumbai Siddharth Chandrashekhar mengajukan gugatan kepentingan umum pada 24 Juni dimana jaksa penuntut umum telah mengkonfirmasi lebih dari 2.000 korban penipuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.